sebuah kebanggaan bersama rasa kagum akan ciptaan lagu-lagu yang di persembahkan Kara Band setelah sekian lama masyarakat merindukan lagu-lagu nias yang berkualitas.
Banyak masyarakat yang kagum dan senang mendengarkan lagu dari Band ini, bahkan setiap hari di awal peluncuran album di awal tahun 2013 silam lagu-lagu tersebut selalu berkumandang dengan keras dari berbagai rumah di sekitaran Onolimbu_lahomi Nias Barat. Bukti bahwa lagu yang dihasilkan oleh personil Band telah disukai dan diterima baik oleh masyarakat,
Juga....
sebuah catatan dari seorang penggemar Band ini yang saya temui FansPage Facebook Kara Band
yang menambah bukti bahwa masyarakat sangat menerima dan berharap karya-karya berikutnya dari Band ini.
berikut adalah catatan dari Constant Giawa yang di share di halaman FansPage Facebook Kara Band
cukup menyita perhatian saya. Pasalnya, setelah sedikit melemahnya gairah industri musik Nias, ada satu kelompok berani meluncurkan satu album dan digarap dalam satu kelompok karena menggunakan seperangkat alat band untuk mengiringi lagu yang ditawarkan. Lebih menarik lagi bagi saya karena 2 lagu yang diproduksi di album ini di tahun 2009 lalu sempat saya dengar dari beberapa teman-teman yang sering nongkrong di rumah saya di Bandung, walau tidak begitu terekam sempurna di memori saya. Ke-2 lagu itu ternyata ditempatkan di urutan lagu ke-2 dan ke-4 di album tersebut.
Tepat hari Rabu, 9 Januari 2013 album itu saya dapatkan setelah menerima paket kiriman dari adik saya yang di Bandung. Setelah mendengar semuanya maka saya sungguh jatuh hati pada lagu ke-2 berjudul Baloi Ba Gunungsitoli. Penampilan vocal Titi J. Daeli sungguh memikat dengan warna vocal yang pas dengan karakter lagu tersebut. Setidaknya bagi saya lagu ini bisa mengobati kerinduan saya akan kehadiran lagu-lagu Nias yang sudah semakin menurun kuantitas dan kualitasnya. Lagu ini berhasil mempermainkan perasaan saya dan mengantarkan saya ke memori-memori masa lalu yang pernah hadir dan mewarnai perjalanan hidup ini. Lirik lagu yang sederhana dengan paduan rentang nada yang cukup lebar memberikan nilai tersendiri bagi saya. Demikian juga lagu ke-4 dengan judul Saohagölö, juga cukup memikat untuk dinikmati.
Secara umum album Kara Band ini layak kita koleksi untuk menambah perbendaharaan album lagu daerah Nias di rak-rak kaset kita. Iringan seperangkat alat band menambah kesan natural dari musik yang ada. Jauh dari modifikasi bunyi-bunyi kecanggihan teknologi seperti yang tersedia di keyboard atau synthesizer. Hampir semua lagu diisi dengan suara gitar distorsi sebagai panduan melodis. Beberapa “singkup” dan “break” yang ditampilkan dalam aransemen musiknya memberi nuansa tersendiri. Rekaman lagu daerah Nias dengan iringan band sangatlah jarang kita temukan. Sepengetahuan saya, tahun 2011 yang lalu pernah beredar album lagu Nias dengan iringan band dan di ujung tahun 2012 Kara Band kembali menawarkan iringan band untuk rekaman mereka. Masih segar di dalam ingatan kita di era 80-an lagu-lagu Nias yang diproduksi oleh Mardiana Record hampir seluruhnya diiringi dengan Band. Selain membutuhkan biaya yang besar, rentang waktu penggarapannya juga cukup panjang. Mungkin ini yang menjadi alasan beberapa produksi lagu Nias digarap dengan lebih praktis hanya dengan menggunakan keyboard sebagai alat musik pengiring.
Antonius Asogö Daeli sebagai pencipta semua lagu juga sudah berupaya maksimal menawarkan 12 lagu di dalam album ini. Thema lagu selain berkisah soal cinta, juga berisikan pengalaman-pengalaman hidup lainnya yang mengantarkan penikmatnya agar senantiasa berbuat baik di dalam hidup. Simak lagu pertama dengan judul Emali, cukup sarat dengan pesan moral di dalamnya. Namun sangat disayangkan lagu nomor 5 dengan judul Auli Kali yang dibawakan dengan baik oleh Firman Daeli 100 % sama dengan lagu aslinya yaitu lagu manca Negara dengan judul Help Me Make It thru The Night. Saya berharap ini hanya sebuah kebetulan saja tanpa ada maksud melakukan penjiplakan hak cipta orang lain. Walau begitu lagu ini cukup hidup karena diberi sentuhan irama blues. Kelihatannya akan lebih menghanyutkan lagi jika suara gitar distorsinya lebih menyayat-nyayat dan ditambahkan efek lain.
Dari tampilan visualnya karena album ini dalam format VCD, sudah cukup baik. Akan lebih menarik lagi jika gambar yang ditampilkan lebih variatif, terlebih lagi latar pengambilan gambarnya berlokasi di Bandung dan sekitarnya. Kita semua tahu kalau kota Bandung memiliki banyak latar panorama yang kaya dan nyaman untuk memanjakan mata penikmat VCD.
Terlepas dari itu semua, bagi saya yang tidak bisa menikmati hasil visualnya maka album Kara Band ini sungguh menjanjikan di masa yang akan datang. Lebih jauh lagi diharapkan prestasi ini dapat ditularkan bagi anak-anak Nias lainnya di daerah perantauan. Jakarta, Medan, Padang, Pekan Baru, Jogyakarta dan beberapa kota lainnya juga memiliki komunitas masyarakat Nias. Semoga kehadiran Kara Band akan menstimulasi komunitas-komunitas lain untuk berkarya di dunia industri musik Nias.
Akhirnya saya ucapkan selamat bagi Kara Band dan bagi kita masyarakat Nias yang bisa menikmati album ini. Mari kita dukung grup ini dengan mengapresiasi karya mereka dan menolak untuk membeli bajakan album serta tidak menggandakannya. Hanya ini dukungan minimal yang dapat kita sumbangkan untuk kemajuan musik Nias. Provisiat…..dan mari sama-sama kita menyanyikan reff lagu Baloi Ba Gunungsitoli sbb :
“Ha khou sa u tou’ö
Tödögu si no oriri
No ara ö fabu’u khogu li
Balaoi ba Gunungsitoli
Lö u be ba mbö’ö
Tödöguno u tou’ö khou
No ara ö fabu’u khögu li
Baloi ba Gunungsitoli”…..
Constant Giawa
Mohili Project

diatas adalah bukti apresiasi masyarakat terhadap Kara Band dan masyarakat juga sangat mendukung dan setia menunggu karya kara Band berikutnya,akhirnya :D harapan penulis kiranya Kara Band tetap berkarya menghasilkan terus musik-musik dan lagu nias yang berkualitas dan semakin dikenali lagi oleh masyarakat baik yang berada di Pulau Nias maupun masyarakat nias yang berada diseluruh nusantara, semoga sukses buat Kara Band. Ya'ahowu !
Tepat hari Rabu, 9 Januari 2013 album itu saya dapatkan setelah menerima paket kiriman dari adik saya yang di Bandung. Setelah mendengar semuanya maka saya sungguh jatuh hati pada lagu ke-2 berjudul Baloi Ba Gunungsitoli. Penampilan vocal Titi J. Daeli sungguh memikat dengan warna vocal yang pas dengan karakter lagu tersebut. Setidaknya bagi saya lagu ini bisa mengobati kerinduan saya akan kehadiran lagu-lagu Nias yang sudah semakin menurun kuantitas dan kualitasnya. Lagu ini berhasil mempermainkan perasaan saya dan mengantarkan saya ke memori-memori masa lalu yang pernah hadir dan mewarnai perjalanan hidup ini. Lirik lagu yang sederhana dengan paduan rentang nada yang cukup lebar memberikan nilai tersendiri bagi saya. Demikian juga lagu ke-4 dengan judul Saohagölö, juga cukup memikat untuk dinikmati.
Secara umum album Kara Band ini layak kita koleksi untuk menambah perbendaharaan album lagu daerah Nias di rak-rak kaset kita. Iringan seperangkat alat band menambah kesan natural dari musik yang ada. Jauh dari modifikasi bunyi-bunyi kecanggihan teknologi seperti yang tersedia di keyboard atau synthesizer. Hampir semua lagu diisi dengan suara gitar distorsi sebagai panduan melodis. Beberapa “singkup” dan “break” yang ditampilkan dalam aransemen musiknya memberi nuansa tersendiri. Rekaman lagu daerah Nias dengan iringan band sangatlah jarang kita temukan. Sepengetahuan saya, tahun 2011 yang lalu pernah beredar album lagu Nias dengan iringan band dan di ujung tahun 2012 Kara Band kembali menawarkan iringan band untuk rekaman mereka. Masih segar di dalam ingatan kita di era 80-an lagu-lagu Nias yang diproduksi oleh Mardiana Record hampir seluruhnya diiringi dengan Band. Selain membutuhkan biaya yang besar, rentang waktu penggarapannya juga cukup panjang. Mungkin ini yang menjadi alasan beberapa produksi lagu Nias digarap dengan lebih praktis hanya dengan menggunakan keyboard sebagai alat musik pengiring.
Antonius Asogö Daeli sebagai pencipta semua lagu juga sudah berupaya maksimal menawarkan 12 lagu di dalam album ini. Thema lagu selain berkisah soal cinta, juga berisikan pengalaman-pengalaman hidup lainnya yang mengantarkan penikmatnya agar senantiasa berbuat baik di dalam hidup. Simak lagu pertama dengan judul Emali, cukup sarat dengan pesan moral di dalamnya. Namun sangat disayangkan lagu nomor 5 dengan judul Auli Kali yang dibawakan dengan baik oleh Firman Daeli 100 % sama dengan lagu aslinya yaitu lagu manca Negara dengan judul Help Me Make It thru The Night. Saya berharap ini hanya sebuah kebetulan saja tanpa ada maksud melakukan penjiplakan hak cipta orang lain. Walau begitu lagu ini cukup hidup karena diberi sentuhan irama blues. Kelihatannya akan lebih menghanyutkan lagi jika suara gitar distorsinya lebih menyayat-nyayat dan ditambahkan efek lain.
Dari tampilan visualnya karena album ini dalam format VCD, sudah cukup baik. Akan lebih menarik lagi jika gambar yang ditampilkan lebih variatif, terlebih lagi latar pengambilan gambarnya berlokasi di Bandung dan sekitarnya. Kita semua tahu kalau kota Bandung memiliki banyak latar panorama yang kaya dan nyaman untuk memanjakan mata penikmat VCD.
Terlepas dari itu semua, bagi saya yang tidak bisa menikmati hasil visualnya maka album Kara Band ini sungguh menjanjikan di masa yang akan datang. Lebih jauh lagi diharapkan prestasi ini dapat ditularkan bagi anak-anak Nias lainnya di daerah perantauan. Jakarta, Medan, Padang, Pekan Baru, Jogyakarta dan beberapa kota lainnya juga memiliki komunitas masyarakat Nias. Semoga kehadiran Kara Band akan menstimulasi komunitas-komunitas lain untuk berkarya di dunia industri musik Nias.
Akhirnya saya ucapkan selamat bagi Kara Band dan bagi kita masyarakat Nias yang bisa menikmati album ini. Mari kita dukung grup ini dengan mengapresiasi karya mereka dan menolak untuk membeli bajakan album serta tidak menggandakannya. Hanya ini dukungan minimal yang dapat kita sumbangkan untuk kemajuan musik Nias. Provisiat…..dan mari sama-sama kita menyanyikan reff lagu Baloi Ba Gunungsitoli sbb :
“Ha khou sa u tou’ö
Tödögu si no oriri
No ara ö fabu’u khogu li
Balaoi ba Gunungsitoli
Lö u be ba mbö’ö
Tödöguno u tou’ö khou
No ara ö fabu’u khögu li
Baloi ba Gunungsitoli”…..
Constant Giawa
Mohili Project

diatas adalah bukti apresiasi masyarakat terhadap Kara Band dan masyarakat juga sangat mendukung dan setia menunggu karya kara Band berikutnya,akhirnya :D harapan penulis kiranya Kara Band tetap berkarya menghasilkan terus musik-musik dan lagu nias yang berkualitas dan semakin dikenali lagi oleh masyarakat baik yang berada di Pulau Nias maupun masyarakat nias yang berada diseluruh nusantara, semoga sukses buat Kara Band. Ya'ahowu !

1 komentar :
http://www.wenes-gulo.ga/2015/02/kara-band-mempersembahkan-lagu-bahasa.html
Kara Band
Pemuda Nias Barat
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar dan berpendapat,
*Ingat Berkomentarlah dengan bijak
terimakasih, Ya'ahowu !