Minggu, 26 April 2015

Kasus Pembunuhan di Kecamatan Moro'o Kabupaten Nias Barat



Gambar Korban di TKP

Sekembalinya dari pulau nias pada tanggal 16 April 2015
Jivil Kurniawan Waruwu, teman se kost saya di sebuah gang di simpang Pembda Medan.
bercerita kepada kami tentang musibah yang telah menimpa keluarganya. Dimana sebelumnya pada tanggal 04 April 2015
Jivil dari medan terbang ke Nias lantaran ayahnya dikabarkan telah hilang sejak tanggal 02 April 2015.
Sesampainya di Nias pada tanggal 4 April Jam 11.00 WIB, tepatnya di desa Onolozalukhu You Kecamatan Moro’o Kabupaten Nias Barat.
Pihak keluarga dan masyarakat sekitar sedang melangsungkan pencarian sang ayah.
Hingga pada pukul 17.00 WIB Sang ayah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa dengan keadaan mengenaskan dan tak berperikemanusiaan bersama dengan 8 tusukan dibagian dada dan 3 tusukan dibagian punggung, terlebih dibagian kepala korban ditemukan tanpa kulit lagi lantaran telah telah terkupas oleh kebiadaban serta organ lain korban yang melekat dibagian kepala tidak ditemukan lagi (hilang) mulai dari rahang bawah, lidah, hidung, telinga hingga mata dicongkel tak melekat lagi ditubuh korban.
Lengan kiri korban pun patah dihabisi pelaku yang sungguh tak berperasaan.
Sungguh sangat menyakitkan dan menyesakkan dada.

Lokasi di temukan sang ayah sekitar 1,5 kilometer berjarak dari rumah korban, disekitar ladang warga Desa Hilisoromi Kecamatan Moro’o Kabupaten Nias Barat.
Semenjak hilang dan telah dilaporkan kepada aparat kepolisian Republik Indonesia, yakni Polsek Mandrehe Kabupaten Nias Barat, tak satupun oknum aparat merespon untuk terjun ke lokasi dan membantu proses pencarian, hingga korban yang berprofesi sebagai PNS di lingkup cabang dinas pendidikan kecamatan moro'o tersebut akhirnya ditemukan di TKP dengan kondisi sangat memprihatinkan, setelah korban telah ditemukan oleh keluarga dan masyarakat, keluarga langsung menghubungi kembali Aparat Kepolisian dari Polsek Mandrehe melalui telfon akhirnya 3 orang anggota polisi dari Polsek Mandrehe mendatangi lokasi kejadian.
sesampainya Polisi dari polsek mandrehe di TKP, korban sedang di bersihkan dan persiapkan untuk diangkat guna melaksakan proses penguburan korban yang 2 hari menghilang tersebut..
Tak lama berselang akhirnya Pihak kepolisian dari Polsek pamit hendak pulang, tapi sebelumnya oknum dari mereka mendatangi anggota keluarga korban, melalui adik korban untuk meminta uang minyak kepada keluarga korban.
Dengan terpaksa keluarga memenuhi tuntutan tersebut sebagaimana lumrah terjadi di negeri ini.
haruskah masyarakat/keluarga korban membayar kepolisian untuk mendapat layananan, dan perlindungan dari pihak kepolisian ?
Sungguh ironis penegakkan hukum di Pulau Nias.
Sesaat sebelum meninggalkan lokasi, polisi berpesan dan meminta kepada keluarga korban untuk menyerahkan nama-nama orang yang mereka curigai sebagai pelaku tindakan keji tersebut. Dengan semangat keluarga korban melaksanakan permintaan tersebut, hingga pihak Kepolisian memanggil beberapa nama tersebut dan prosesnya bias sampai disitu saja.

Hari senin tanggal 6 April pihak kepolisian kembali mendatangi kelurga korban, atas permintaan dari keluarga korban, untuk memberi petunjuk-petunjuk kepada pihak kepolisian namun sayang tak ada perkembangan yang melegakan akibat pertemuan ini.
Pamit pulang, pihak kepolisian kembali meminta uang tranport kepada keluarga korban seperti biasanya 'transaksi' kembali terjadi.
Peristiwa ini seakan membuat  kepolisian adalah lembaga bayaran yang hanya siap bekerja dan membantu masyarakat jika uang aktif disetor
Sungguh kami merasakan ketidakadilan disini, kami menduga ada pembiaran dalam kasus ini. Kami menginginkan kinerja polisi yang optimal, penegakan dan supremasi hukum yang adil, mengapa di wilayah lain polisi terlihat bersemangat dan mampu memecahkan kasus semacam ini??
Sangat ironis dan mengecewakan, sikap polisi semacam ini adalah cerminan lemahnya kinerja kepolisian Nias khususnya polsek yang menangani kasus ini, atau karena konon kabarnya polisi yang bertugas disana adalah (Maaf) polisi buangan dari instansi lain?
terbesik juga dugaan rendahnya pelayanan dan kinerja polisi dalam kasus ini adalah karena minimnya uang yang disetor ke mereka.

Tulisan ini adalah luapan kekecewaan kami kepada pihak kepolisian yang kurang menanggapi kasus ini secara serius dan profesional sebagaimana tugas Kepolisian.
dan begitu teganya membiarkan pembunuh berdarah dingin yang tak punya hati nurani dan begitu sadis tersebut terus berkeliaran.
betapa gelisah dan sakitnya hati keluarga korban melihat kasus ini terabaikan begitu saja.
Penulis adalah teman anak korban dan sekaligus pemuda nias yang merasakan hawa dan suasana penegakan hukum di pelosok kepulauan nias yang terkesan buruk dan jauh dari harapan
Hingga pada tanggal 26 april 2015 saat tulisan ini kami tulis dan posting, tidak ada laporan dari pihak kepolisian tentang perkembangan kasus ini kepada keluarga korban.



3 komentar :

Ono Niha Tola mengatakan...

www.wenes-gulo.ga

Unknown mengatakan...

Sungguh memprihatinkan penegakkan, dan pelayanan hukum di pulau Nias, khususnya Nias Barat
.

Unknown mengatakan...

kasihan,,,

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar dan berpendapat,
*Ingat Berkomentarlah dengan bijak
terimakasih, Ya'ahowu !